Kamis, 25 Februari 2010

SOSIALISASI TENTANG BAHAYA NARKOBA


Tiga aspek penting untuk mencegah anak-anak terjerumus kedalam NARKOBA :
  1. Pengetahuan yang benar tentang NARKOBA.
  2. Keterampilan dan ketahanan dalam menghadapi masalah.
  3. selalu berada dalam lingkungan yang POSITIF.
Ketika anak-anak memperoleh pengetahuan yang benar tentang NARKOBA, memiliki keterampilan dan ketahanan dalam menghadapi masalah dan merasa nyaman dalam lingkungan yang positif dan tidak mendukung penggunaan NARKOBA, maka keinginan untuk mencoba pun tidak akan pernah terpikirkan.

Orang tua yang mengajarkan tentang bahaya
NARKOBA kepada anak-anaknya, dapat mengurangi 36 % resiko anak mencoba ganja, 50 % resiko menyalahgunakan inhalen, 56 % pemakaian kokain dan 65 % LSD dibanding dengan anak yang tidak diajarkan orangtuanya tentang bahaya NARKOBA.

Senin, 08 Februari 2010

Makna Ikon Anti Narkoba


Ikon anti Narkoba ini berbentuk kupu-kupu, berwarna kuning keemasan dengan outlene hitam.
Warna kuning keemasan melambangkan kegiatan yang baik dan itikad yang mulia.
Warna hitam menunjukkan kekuatan dan keteguhan dalam memerangi penyalahgunaan Anti Narkoba.
Kepakan sayap menandakan dinamisasi gerakan Anti Narkoba.
Posisi sayap kupu-kupu yang tidak simetris, dan mengarah kekanan, merupakan simbol arah yang baik.
Garis atau outline hitam yang mengelilingi sayap secara tidak terputus mengibaratkan sebuah lintasan tanpa ujung dan pangkal, menandakan kegiatan yang berlangsung terus menerus dalam memerangi Narkoba.
Kupu-kupu menginspirasikan proses metamorfosis yang dimulai dari telur, menjadi ulat, kemudian kepompong, dan lahirlah kupu-kupu yang baik.
Proses ini menggambarkan suatu gerakan masyarakat yang terus menerus dan berkesinambungan dalam memerangi Narkoba, dimana kupu-kupu menjadi simbol akhir keberhasilan dari sebuah proses yaitu bersih dari Narkoba, sebuah cita-cita mulia yang diharapkan oleh seluruh masyarakat indonesia

Jumat, 05 Februari 2010

Kegiatan BNP Jambi.


Untuk menunjang kegiatan BNP Jambi dan untuk menambah pengetahuan dalam rangka Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) maka, pada hari Kamis tanggal 04 Februari 2009 seluruh staf Karyawan BNP Jambi mengikuti pelatihan penggunaan Tes Kit. Acara dibuka oleh Drs. Pradigdo (Kasubbag Pembinaan Masyarakat Biro Kesra dan Kemasyarakatan Setda Provinsi Jambi), dengan Nara Sumber Jerry Ms. AMAK dan Rany Homery. R. AMAK Staf Karyawan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jambi. Didalam Pelatihan tersebut dijelaskan:



  1. Pengertian Narkoba dan jenis-jenisnya.
  2. Cara penggunaan Test Kit dan juga macam-macam jenis Test Kit.
  3. Penyimpanan Tes Kit yang baik.
  4. Spesimen dan penyimpanan urine.
  5. Prosedur Penggunaan Tes Kit.
  6. Pembacaan Hasil.
Dalam pelatihan tersebut juga dipraktekkan langsung penggunaan Tes Kit dengan menggunakan sampel urine dari salah satu staf BNP Jambi dengan begitu semua peserta memahami cara penggunaannya. Dengan diadakan kegiatan tersebut diharapkan seluruh karyawan dapat menggunakan Test Kit dengan prosedur yang baik.

Rabu, 03 Februari 2010

Penggolongan Narkotika.

Narkotika.
  1. Narkotika golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan tidak digunakan untuk terapi (pengobatan). contoh : heroin, kokain, dan ganja. putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.
  2. Narkotika golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, digunakan pada terapi sebagai pilihan terakhir. Contoh : morfin, petidin dan metadon.
  3. Narkotika golongan III : berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Contoh : kodein.

Psikotropika.
  1. Psikotropika golongan I : amat kuat menyebabkan ketergantungan dan tidak digunakan dalam terapi. Contoh : MDMA (ekstasi), LSD dan STP.
  2. Psikotropika golongan II : kuat menyebabkan ketergantungan, digunakan amat terbatas pada terapi. Contoh : amfetamin, metamfetamin (shabu), fensiklidin dan ritalin.
  3. Psikotropika golongan III : potensi sedang menyebabkan ketergantungan, banyak dipergunakan dalam terapi, Contoh : pentobarbital dan flunitrazepam.
  4. Psikotropika golongan IV : potensi ringan menyebabkan ketergantungan dan sangat luas digunakan dalam terapi, Contoh : diazepam, Klobozam, dll.

Bahan Adiktif Lainnya.
  1. Alkohol, yang terdapat pada berbagai jenis minuman keras.
  2. Inhalansi / solven, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik, kantor dan rumah tangga.
  3. Nikotin yang terdapat pada tembakau.
  4. Kafein pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepala tertentu.

Morvin.

Karakterisrik.
  1. Analgesik yang kuat.
  2. Tidak berbau.
  3. Berupa kristal putih yang warnanya menjadi kecoklatan.

Efek.
  1. Mengurangi rasa nyeri, kantuk atau turunnya kesadaran.
  2. Sembelit, gangguan menstruasi dan impotensi.
  3. Pemakaian dengan jarum suntik menyebabkan HIV/AIDS, Hepatitis B & C.
  4. Pemakaian dikurangi atau dihentikan: hidung berair, keluar air mata, otot kejang, mual, muntah dan mencret.

Akibat dari Penyalahgunaan Narkoba.

Bagi Diri Sendiri.
  1. Fungsi otak dan perkembangan normal remaja terganggu, mulai dari ingatan, perhatian, persepsi, perasaan dan perubahan pada motifasi.
  2. menimbulkan ketergantungan, overdosis, gangguan pada organ tubuh, seperti: hati, ginjal, paru-paru, jantung, lambung, reproduksi serta gangguan jiwa.
  3. perubahan pada gaya hidup dan nilai-nilai agama, sosial dan budaya, misalnya tindakan asusila, asosial bahkan anti sosial.
  4. Akibat jarum suntik yang tidak steril dapat terkena HIV/AIDS, radang pembuluh darah, jantung, hepatitis B dan C, tuber colose.

Bagi Keluarga.
  1. Orang tua menjadi malu, sedih, merasa bersalah, marah bahkan kadang-kadang sampai putus asa.
  2. Suasana kekeluargaan berubah tidak terkendali karena sering terjadi pertengkaran, saling mempersalahkan, marah, bermusuhan, dll.
  3. Uang dan harta benda habis terjual, serta masa depan anak tidak jelas karena putus sekolah dan menganggur.

Bagi Masyarakat.
  1. Lingkungan menjasi rawan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.
  2. Kriminalitas dan kekerasan meningkat.
  3. Ketahanan kewilayahan menurun.