Rabu, 15 Februari 2012

PENGEDAR NARKOBA LEBIH SADIS DARI PADA TERORIST

Mengapa judul diatas ditulis oleh penulis dengan harapan seluruh komponen bangsa harus lebih serius dan harus lebih waspada dalam menangani narkoba, karena dampaknya sehari 51 orang meninggal dunia akibat narkoba( data hasil penelitian BNN tahun 2008).
Belum lagi yang tidak terungkap karena ditutup tutupi oleh keluarganya karena malu aibnya tersebar, begitu juga dari instansi/ organisasinya bila oknum nya meninggal karena over dosis atau karena AID/HIV akibat pengguna narkoba.
Tapi kelihatan penanganannya tidak sewah wah nya atau seserius dan setakut seperti penanganan terorist , sepertinya biasa biasa saja , contoh masyarakat sepertinya rasa takutnya kurang dari pada menghadapi para pelaku terorist contoh beredar disekitar rumah nya , ditempat hiburan koq diam tidak cepat ditangani, ditangkap ,dilaporkan, atau diberantas seperti teroris padahal korbanya lebih banyak dari pada korban teroris dan tidak juga secara serius seperti menangani kasus demam berdarah, flu burung padahal dampaknya lebih parah Narkoba karena rusaknya generasi penerus bangsa, dan jumlah yang meninggal dunianya.
Belum lagi rasa penderitaan bila salah satu keluarganya terlibat menggunakan narkoba diantaranya :


1. Harta kekayaan isi rumahnya bisa dikuras habis dijual untuk membeli narkoba.
2. Menjadi sakit fisiknya dan jiwanya atau gila, terkena AID/ HIV,meninggal dunia karena over dosis.
3. Menjadi pelaku kriminal ( pencuri, penipu, pembunuh, pengedar narkoba, dll ) akibatnya ketangkap dan masuk penjara.
4. Menghabiskan biaya untuk berobat dirumah sakit, tempat rehabilitasi, rumah sakit jiwa dan bisa membuat orang tuanya setres dan malu sehingga dapat meninggal dunia.
5. Merusak dirinya sendiri, masa depannya sendiri dan keluarganya.
6. Memasukan dirinya sendiri ke neraka dan berbuat dosa.
7. Yang paling bahaya mendukung pergerakan kegiatan para pelaku terorist, karena pelaku terorist menjual narkoba atau sebagai bandar narkoba dan hasilnya/ keuntungan untuk memperbesar organisasi teroristnya, untuk merekrut orang orang dengan tipu dayanya untuk menjadi terorist dengan banyaknya uang yang dimilki ,untuk membeli bahan peledak / bom , membeli senjata , melancarkan kegiatannya untuk menyewa / mengontrak rumah, bayar hotel ,membeli kendaraan untuk dipasang bom, seperti kejadian di Bali dan di Jakarta.

Apakah kita tega , diam dan tidak mengatakan anti narkoba dan berantas narkoba serta tidak berbuat nyata untuk menangani secara serius untuk mencegah dan memberantas narkoba, di negara yang kita cintai ini.
Maukah Indonesia ini hancur , karena generasi penerusnya telah banyak yang menggunakan narkoba dan maukah Indonesia ini makin berkembangnya terorist karena bebasnya peredaran narkoba.

Apakah kita sebagai bangsa membiarkan terus narkoba dan bahan adiktif lainnya masuk dan lolos terus secara illegal atau legal ke Indonesia dan disalah gunakan .
Padahal Indonesia belum bisa membuat narkoba atau bahan adiktif ini kecuali ganja yang bisa tumbuh di Indonesia,berarti kita harus bersama sama menjaga masuknya narkoba ini dari jalur masuk yang resmi dan tidak resmi dari luar negeri dan harus secara terbuka dan transparan dalam penanganannya.

Perlu diketahui bahwa di Provinsi Jambi dari data yang didapat hasil penelitian dari Dinas Kesehatan sebagai berikut :

1. Jumlah pengguna/ penyalah guna narkoba sebanyak = 50.420 orang, rangking IV se Indonesia dari 33 Provinsi.
2. Peredaran narkoba rangking XIV dari 33 Provinsi.
3. Yang tercatat di Dinas Kesehatan terkena AID/ HIV = 555 orang.
4. Data pelaku yang tertangkap dan diproses hukum tahun 2010 sebanyak = 289, tahun 2009 sebanyak = 278, tahun 2008 sebanyak = 270.
Jadi mengapa pengedar narkoba lebih sadis dari pada terorist karena bila narkoba terjual banyak maka korban yang meninggal dunia akan lebih banyak dan dari hasilnya digunakan terorist untuk melaksanakan kegiatan terornya membunuh orang dan mengebom orang, “jadi kanan kiri oke membunuh semua kedua duanya baik jual narkoba dan kegiatan terorist nya ”oleh sebab itu stop narkoba , berantas narkoba dan terorist secara bersama sama dan yang sudah menjadi korban mari kita sembuhkan juga bersama sama.
Kombes Pol Drs. Mohammad Yamin Sumitra
Kepala BNNP Jambi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn