Jumat, 09 November 2012

PERINGATAN HARI PAHLAWAN MERUPAKAN PERTEMPURAN TERBESAR DAN TERBERAT DALAM SEJARAH REVOLUSI NASIONAL INDONESIA , DENGAN SEMANGAT PERJUANGAN INI SANGAT COCOK UNTUK MENGHADAPI ANCAMAN NARKOBA YANG KORBANNYA SANGAT BANYAK SEKALI DAN SANGAT MEMBAHAYAKAN KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA.

Peristiwa 10 Nopember 1945 merupakan pertempuran di Surabaya , sejarah perang antara Indonesia dan pasukan Belanda. 
Perang ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia yang menjadi simbul nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme, yang korbannya di pihak Indonesia = 6000- 16000 meninggal dunia dan dipihak Britania = 670 orang ,termasuk Brigjen Mallaby tewas. 

Kronologi penyebab peristiwa 
Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia 
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang. 


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945

Kedatangan Tentara Inggris &Belanda 
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911.
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi. 

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby 
Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Ujian demi ujian bangsa Indonesia tetap tegar dan tetap komitmen menegakkan kebenaran dan menghancurkan penjajah yang sangat membuat penderitaan dan kesengsaraan bangsa Indonesia. Kejadian ini merupakan bukti , keberanian dan kesatriaan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negaranya, yang akan direbut kembali oleh penjajah. Hari Pahlawan ini sangatlah baik dan tepat untuk untuk memberantas Narkoba , dengan semangat dan keberanian berjuang untuk menghancurkan musuh dimasa setelah merdeka yaitu : KKN, Pelanggaran Hak Azasi Manusia, Narkoba , kebodohan ,kemiskinan , kebudayaan yang tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemberani dan bersatu sejak memerangi penjajahan , dengan semangat ini perlu dimunculkan kembali untuk memerangi bahaya Narkoba yang ancamannya sangat besar terhadap bangsa ini, dari mulai kesengsaraan, penderitaan, stress, sakit, sakit jiwa, masuk penjara,meninggal dunia, akan mempengaruhi segala sendi kehidupan yaitu Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan, Keamanan, Agama , berkembangnya kegiatan dan pelaku Teror, serta hancurnya generasi penerus bangsa calon calon pemimpin bangsa kedepan.
Pertempuran 10 Nopember 1945 ini merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia , yang korbannya dipihak Indonesia yang meninggal dunia = 6000 – 16000 orang , coba korban meninggal dunia akibat Narkoba sehari rata rata = 51 orang , bila setahun berarti = 51 x 365 = 18.615 orang meninggal dunia ( Th 2008 ) . Bila dilihat dari korban meninggal dunia akibat Narkoba lebih banyak dari pada korban pertempuran terberat dan terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, maka harapannya juga dalam memperjuangkan menyelamatkan bangsa dari ancaman Narkoba harus lebih besar dan harus lebih serius lagi karena korbannya tiap tahun terus meningkat korban meninggal dunia , tahun 2008 = 18.615 orang, ditambah tahun  2009  = ............. orang, tahun 2010 = ......... ,tahun 2011 = .........,tahun 2012 = ............... berapa bila dijumlah, ditambah lagi yang masuk penjara, yang sakit, sakit jiwa.  yang terinfeksi HIV /AIDS, yang dipecat dari pekerjaan, diberhentikan kuliah,sekolah. yang jadi janda,duda , menjadi anak yatim piatu , yang kelaparan / yang menangis setiap hari yang mencari nafkah meninggal dunia atau masuk penjara dan hancurnya segala sendi kehidupan bangsa Indonesia ini.
Jambi, 9 November 2012
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jambi
KombesPol Drs. Mohammad Yamin Sumitra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn