Senin, 17 Juni 2013

PENANGANAN NARKOBA HARUS MAKSIMAL



Kepala BNN Provinsi Jambi, Drs. Mohammad Yamin Sumitra:
"PENANGANAN NARKOBA HARUS MAKSIMAL"

PENANGANAN narkoba harus serius dan maksimal, karena ancaman narkoba sangat sadis, dan telah memakan korban yang sangat banyak. Penyebaran narkoba dibantu para syetan, sehingga sangat cepat sekali menyebarnya. Yang sangat menderita dan sengsara adalah keluarga terdekat yang terkena korban penyalahgunaan narkoba. Tapi tetangga, keluarga jauh masih acuh dan cuek. 


Bila penangannya tak serius dan maksimal, narkoba bisa masuk ke semua pintu rumah. Bukan hanya pintu rumah rakyat biasa, pintu rumah pejabat paling top pun juga bisa masuk, karena narkoba sudah masuk ke semua lini, tanpa pandang bulu itu manusianya karena dibantu syetan. Gara-gara narkoba bisa menjadi pelaku kriminal yang ngetop, dan pendosa, bisa jadi pencuri, perampok, pembunuh, pemerkosa, penipu, korupsi, pemutilasi, pelaku teroris, penzina, penggila dunia dan penggila jabatan. 

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jambi, Kombes Pol. Drs. Mohammad Yamin Sumitra saat dikonfirmasi SKM BUSER baru-baru ini mengatakan, narkoba sebagai extra ordinary crime. yaitu korbannya luas dan masif. Setiap hari sekitar 50 orang meninggal dunia. Kerugiannya sangat besar, per tahun sekitar Rp. 50 triliun (uang hasil penjualan narkoba, biaya rehabilitasi medis/sosial, menurunnya kualitas SDM dengan kerusakan otak secara permanen, dan lain-lain). Merusak kesehatan, cacat permanen pada otak dan masa depan generasi muda. Pelakunya melibatkan jaringan luas, lintas negara, memiliki dana yang sangat besar. Karena itu memerlukan penanganan secara khusus, dan undang-undang khusus serta ancaman serius terhadap keamanan (narcoterrorism). 

Yamin mengatakan, tidak ada satupun instansi/institusi/perusahaan yang bisa menyatakan bahwa institusinya bersih dari narkoba, atau kebal terhadap narkoba. Kejahatan narkotika digolongkan sebagai Extra-ordinary International Organized Crime dengan jaringan yang mengglobal. Kejahatan ini terjadi menembus batas-batas yuridiksi suatu negara, tidak mengenal batas negara (borderless), sehingga kejahatan ini juga digolongkan sebagai Transnational Crime. Guna memberantas Kejahatan narkotika masyarakat Internasional telah menyusun "United Nation Convention Against The Illicit Traffick in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988" sebagai Hukum Internasional Indonesia telah meratifikasi dengan Undang-undang 
Nomor 7 Tahun 1997. 

Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika (UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika masih berlaku) telah disusun antara lain mengacu kepada UN Convention 1988, dengan penekanan pada penghukuman badan, yaitu pidana penjara yang keras terhadap pelaku tindak pidana Narkotika. Bersamaan dengan penghukuman denda yang besar, perampasan aset untuk negara yang bertujuan melumpuhkan kemampuan finansial pelaku bersama jaringan sindikatnya. Uang hasil TOC (narcotics, terrorism, arm smuggling, human trafficking dll) = US$ 125 M/tahun. Hasil Peredaran Gelap Narkoba = US$ 106,25 M/tahun (= 85% dari US$ 125 M/tahun). Kejahatan narkoba adalah tulang punggung TOC: uang hasil kekerasan, konflik, korupsi dan adiksi. 

Adapun biaya yang dikeluarkan untuk pemakaman/selamatan keluarganya yang meninggal dunia akibat overdosis, sakit, bunuh diri pada tahun 2008, sehari meninggal dunia rata-rata sehari 51 orang, berarti setahun = 51 x 365 = 18.615 orang x Rp. 10.000.000 = Rp. 186.150.000.000. Biaya yang dikeluarkan untuk berobat sakit jiwa, HIV/AIDS, sakit fisik dirata-rata se Provinsi = 3000 orang x 33 provinsi x Rp 1.000.000 = Rp. 99.000.000.000,-. Biaya makan dan perawatan tahanan dan narapidana perkara pidana narkoba negara mengeluarkan dana Rp. 8.000/1 orang 1 hari x jumlah tahanan/napi x 4 tahun ataupun 20 tahun, belum lagi untuk melaksanakan P4GN yang lainnya. 

Kasus narkoba, berdasarkan penggolongan jenis narkoba di Indonesia, tahun 2008 s/d 2012 menurun. BNN saat ini mencapai Narkotika 75.794 kasus, Psikotropika 22.943 kasus. Bahan Adiktif 44.442 kasus. Jumlah 143.179 kasus. Sementara tersangka narkoba berdasarkan penggolongan narkoba di Indonesia tahun 2008 s/d 2012, Narkotika 101.071 orang, Psikotropoka 30.222 orang, Bahan Adiktif 54.795 orang, Jumlah 186.088 orang. Tersangka narkoba berdasarkan latar belakang pendidikan di Indonesia tahun 2008 s/d 2012 SD 22.895 orang, SMP 46.230 orang, SMA 111.904 orang, PT 5.059 orang, Jumlah 186.088 orang. 

Lalu apakah dampak narkoba bagi korban? Penyalahguna narkoba mengalami kerusakan otak permanen, kualitas SDM menurun, waktu dan kesempatan hilang, keluarga, tenaga, waktu, biaya, pikiran, perasaan, masyarakat nyawa, materi, dll. 
Maka, kiranya sangatlah penting Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dimasukkan dalam muatan lokal kurikulum baru 2013 ataupun pada tahun 2014, karena ancaman narkotika sangat membahayakan segala sendi kehidupan (Ipoleksosbudhankam dan Agama), yang akan menghancurkan generasi penerus bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn