Jumat, 27 September 2013

KEDUDUKAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN


Manusia adalah makhluk sosial yang paling lemah di muka bumi ini, karena kelemahannya manusia diberikan akal dan fikiran untuk  menemukan pelindung dari sang maha kuat, maha hebat dan maha segala-galanya, Dia adalah Tuhan (Allah). Naluri manusia cenderung mencari sang maha pencipta karena kekuatan akalnya, akhirnya manusia menyadari sepenuhnya bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan.
Tuhan menciptakan alam semesta ini diperuntukkan sepenuhnya untuk keberlangsungan hidup makhlukNya. Tentu untuk menjaga kelestarian dan menjaga keseimbangan alam ini, manusia diberikan hak mutlak sebagai khalifah (pemimpin)nya. Tuhan juga menurunkankan aturan-aturannya, berupa Agama dan Al-kitab (wahyu yang tertulis). Logikanya, kalau kita membeli sebuah HP tentu ada buku panduannya, dengan maksud agar bisa digunakan sebagai mana mestinya dan tidak cepat rusak. Itupun kalau kita mau mematuhi aturan-aturan dalam buku panduan tersebut. Begitu juga dengan alam semesta ini.
Agama berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu A dan Gama. A berarti tidak dan Gama berarti Kacau. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang beragama berarti Tidak Kacau (teratur, bergerak berdasarkan aturan-aturaNya). Agama terbagi menjadi dua, yaitu agama samawai dan agama ardhi. Agama samawi adalah agama langit, maksudnya agama yang diturunkan oleh Tuhan Allah melalui perantara malaikat Jibril (rohul qudus) kepada para RasulNya untuk disampaikan kepada umatnya dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dalam kehidupan sehari-sehari, agama tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita. Dalam al-Qur’an surah al-Baqoroh dikatakan “udkhuluu fissilmi ka affah” terjemahannya kurang lebih: Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan. Mulai dari Cara berfikir, bicara, melihat, mendengar dan bertindaknya kalau bisa sesuai menurut konsepsi Islam.
Seiring dengan berkembangnya waktu, kelompok aliran tertentu berusaha untuk memisahkan antara agama dengan kehidupan. Dengan berbagai cara diupayakan, mulai dengan tulisan, tayangan (visualisasi), akomodasi (perlengkapan) dan konsumsi (makanan). Semua itu dilakukankan dengan tujuan untuk memisahkan antara agama dengan kehidupan. Jadi seolah-olah kalau manusia mau mencari pahala, ya cukup dengan solat, puasa, zakat, haji dan bersedekah atau duduk berlama-lama beramal di dalam Masjid/Mushola. Tapi kalau di tempat kerja seolah-olah jauh dari nilai pahala dan dosa. Padahal dalam sebuah riwayat dikatakan “salah satu ciri orang beriman yang baik itu adalah oarang yang rajin dan giat bekerja. Tidak meminta-minta atau tidak merendahkan dirinya untuk uang semata.  Suatu ketika Nabi pernah mencium tangan seorang sahabat yang melepuh dan kasar karena mengolah tanah untuk memenuhi kebutuhan demi menghidupi keluarganya, seraya Nabi bersabda “inilah tangan yang tidak tersentuh oleh api Neraka”.
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim dikatakan, yang maksudnya kurang lebih adalah: Banyak orang yang mengerjakan perbuatan dunia, seperti bekerja sehari-hari: (mencuci, memasak, disiplin dan bertanggung jawab, menjadi guru, mengambil kebijakan/keputusan, menjadi anggota dewan, menjadi karyawan dan lain-lain) akan bernilai Pahala disisi Allah kalau didasari dengan niat yang baik semata-mata karena Allah dan untuk kebaikan orang banyak. Begitu juga sebaliknya, Banyak orang yang melakukan perbuatan akhirat, seperti: Sholat, sedekah, pergi haji, dan lain-lain tidak akan bernilai apa-apa disisi Allah kalau didasari dengan niat yang bukan karena Allah semata. Seperti: ingin dipuji atau ingin mendapatkan sesuatu dan lain-lain.
Sesuatu itu akan dikategorikan baik apabila mempunyai 3 syarat, yaitu:
1.   Niat,
2.   Proses dan
3.   Tujuannya.
Ketiga-tiganya harus baik, kalau satu di antaranya tidak baik maka menjadi tidak baiklah perbuatan tersebut.
Ketika sebuah kehidupan dijauhkan dari nilai-nilai agama, maka yang muncul dalam benaknya adalah tidak akan berharap terhadap pahala dan tidak takut terhadap dosa, mau berbuat apa kita? Tidak ada urusan sama orang lain. Mau korupsi, mencuri, berjudi, berzina, menjual atau mengkonsumsi Khomr (narkoba) dan lain-lain selama itu menguntungkan untuk dirinya maka itulah yang ia kerjakan.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa “Khomr (Narkoba) adalah induk dari segala kejahatan”. Sedangkan Khomr (Narkoba) menurut hukum Islam adalah Haram (al-Baqoroh:183) dan segala sesuatu yang dihasilkan dari khomr (Narkoba) juga dihukumi Haram. Kenapa Khomr dihukumi haram? Karena sangat membahayakan bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Di Provinsi Jambi yang gila karena Khomr (Narkoba) mencapai 70-100 orang pertahunnya, yang terinfeksi HIV/AIDS per Maret 2013 sebanyak 842 orang. Sedangkan mereka yang terlanjur menyalahgunakan Khomr (Narkoba) mencapai 50.420 orang, mereka semua rata-rata masih berusia produktif, kisaran usia 12-35 tahun.
Kondisi yang seperti ini apa bila ada proses pembiaran dan kurang seriusnya pihak pemerintah, maka jangan tunggu lama-lama Provinsi ini akan hancur dengan sendirinya. Bukankah kita tahu peran pemuda dalam sebuah negara? Dalam pepatah Arab dikatakan sebagai berikut:
“inna fi yadi subban amarol ummah, wa fi aqdamiha hayataha, subbanul yaum rijalul ghod”.
Artinya: “Sesungguhnya ditangan para pemuda perkara bangsa, dan di atas kakinya lah berdirinya sebuah negara itu, pemuda hari ini akan menjadi pemimpin di hari esok”.
          Kalau kita simak secara seksama papatah arab di atas, maka peran pemuda sangat berpotensi untuk kelangsungan sebuah bangsa kedepan. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, kalau pemerintah ada proses pembiaran maraknya peredaran gelap Khomr (Narkoba) di negara kita berarti sama dengan tidak menginginkan tumbuh kembangnya negara ini kedepan. Karena apa yang bisa diharapkan dari seorang pemuda yang kehidupannya sudah tergantung oleh Khomr? Untuk mengurus dirinya sendiri saja susah apa lagi memikirkan bangsa yang besar ini. 
Sebenarnya kalau kita lihat kebelakang, untuk apa Allah menciptakan manusia? Tak lain dan tak bukan hanyalah semata-mata untuk Beribadah kepadaNya. Dalam Al-Qur’an surat Adz-dzariyat ayat: 56 dikatakan “wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduuna” yang maksudnya adalah; “tidak akan aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu”.
Kata ibadah berasal dari kata ‘abdi, dalam bahasa Indonesia berarti: babu, pembantu atau kuli. Dalam kontek ayat tersebut, manusia ibarat hanya seorang pembantu. Sudahkah kita menjadi pembantu yang baik? Padahal Allah memanggil kita dalam sehari semalam (24 jam) hanya 5 kali. Sudahkah kita memenuhi panggilan-Nya dengan tepat waktu? Maha Suci Allah, yang pada dasarnya Allah tidak mungkin diserupakan dengan apapun.
Bayangkan kalau kita menjadi seorang Majikan dan membutuhkan pembantu untuk mengerjakan pekerjaanya, kemudian kita memanggilnya, namun pembantu kita mengatakan dengan santainya sambil menonton TV “nanti dulu ah.. kan waktunya masih panjang, bahkan ada yang tidak mau datang sama sekali”. Bagaimana perasaan kita selaku seorang majikan?.... mari kita saling mengingatkan antar sesama, karena manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf.

Allahu a’lam, semoga bermanfa’at.


Jambi, 27 September 2013
Tim Penyuluh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn