Senin, 02 September 2013

MEMBANGUN BUDAYA BARU TANPA NARKOBA DI BUMI SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH


Dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan, salah satu faktor penghambat yang paling sulit untuk dapat diatasi oleh bangsa dan pemerintah masalah Narkoba. Berbagai usaha pencegahan sudah berjalan sejak lama, seiring dengan perjalanan reformasi, namun hasilnya belum memuaskan. Namun demikian, upaya pencegahan tersebut terus dilakukan hingga menjadi kekuatan gerakan anti narkoba yang lebih aktif pada tindakan hukum. Salah satu dapat dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pencegahan adalah penyuluhan diberbagai sekolah dan instansi pemerintah.

Menindaklanjuti Instruksi Presiden RI Nomor 12 Tahun 2011 tentang Kegiatan Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), Gubernur  telah menginstruksikan kepada seluruh jajarannya  untuk melaksanakan P4GN. Dengan Instruksi Gubernur No. 05 Tahun 2012.

Sekolah merupakan salah satu penentu peradaban masa depan bangsa, karena di sekolah secara fundamental dibentuk karakter manusia Indonesia. Oleh karenanya diperlukan  pengintegrasian nilai-nilai anti Narkoba dalam setiap kebijakan, langkah-langkah, dan aspek pengelolaan sekolah. Tujuan pengitegrasian adalah untuk memberikan pemahaman yang benar tentang anti Narkoba dalam membangun “Budaya Baru Tanpa Narkoba”.

Untuk dapat menanamkan nilai-nilai anti Narkoba tersebut, praktek manajemen sekolah harus dilaksanakan dengan menerapkan prinsip-prinsip anti Narkoba yaitu, memberikan penjelasan tentang dampak Negatif dari penyalahgunaan Narkoba dan mengadakan tes urine untuk setiap penerimaan dan kelulusan siswa/I dalam rangka kegiatan preventif.

Provinsi Jambi merupakan salah satu dari 34 provinsi di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya dengan mengedepankan nilai-nilai religi. Terbukti Dalam seloko adat budayo Jambi mengatokan “Adat Bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah”. Bahkan ada satu kampung dalam Kota Jambi ini di juluki dengan sebutan “serambi Mekah”. Pada dasarnya seluruh aktifitas di proovinsi Jambi ini seharusnya mengacu pada adat dan budaya Jambi. Pada kenyataannya masih banyak aktifitas-aktifitas yang kurang sesuai dengan nilai-nilai adat dan budaya Jambi. Seperti yang kita saksikan setiap malam adanya warung remang-remang di pinggir jalan yang diikuti dengan iringan musik yang menggugah selera dugem dikalangan remaja dalam Kota Jambi. Aktifitas seperti ini apa bila ada pembiaran dari pemerintah, dalam hal ini “lembaga adat” khawatirnya kedepan akan berlanjut menjadi subur dan menjadi ajang esek-esek bahkan tidak menutup kemungkinan dijadikan tempat transaksi Narkoba.

 Kemudian dari sektor properti, penamaan terhadap perumahan di Kota Jambi selalu menggunakan nama-nama klub sepak bola luar negeri seperti, Aston Villa, Barcelona, Arsenal dan lain-lain. Nilai apa yang kita dapatkan dari penamaan tersebut, siapa yang diuntungkan? Kenapa tidak memakai nama yang beraroma adat budaya Jambi? Seperti, Gomak, Padamaran dan lain-lain. Ini juga kalau ada pembiaran dari lembaga adat, maka akan mengikis pemahaman terhadap adat budaya Jambi bagi generasi muda yang semakin lama kian memudar dan menghilang.

Jambi, 2 September 2013
Tim Penyuluh BNN Provinsi Jambi
Imam Hanafi

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn