Senin, 16 September 2013

ORANG TUA PINTU PERTAMA PENDIDIKAN

Narkoba saat ini menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa. Penyalahgunaan narkoba dikalangan anak-anak bangsa ini bisa mengakibatkan terputusnya generasi emas bangsa. Hal ini merupakan bentuk penjajahan baru Negara lain kepada Negara ini agar masyarakat semakin terpuruk dan jatuh dari persaingan global karena hilangnya kader bangsa berkualitas dan kompetitif.
Tidak bisa dipungkiri jumlah terbanyak pemakai narkoba di Indonesia adalah anak-anak dan remaja.Hal ini mengindikasikan bahwa ada kesalahan dalam mendidik generasi dimulai dari lingkup masyarakat terkecil yaitu keluarga.Untuk itulah perlu menyamakan persepsi bahwa mendidik itu bukan hanya mengajarkan/memberikan kata-kata bijak kepada anak didik tapi jauh dari sekedar itu ialah memberi contoh atau suri tauladan kepada anak didik kita.
Keluarga dalam hal ini orang tua adalah pemberi nilai-nilai pondasi awal pendidikan akhlak dan moralitas dalam masyarakat. Orang tua adalah contoh hidup anak-anaknya dengan kata lain orang tua itu panutan dan teladan anak-anaknya. Jadi untuk menghasilkan generasi berakhlak dan bermoral baik dimulai dari orang tua itu sendiri sebagai gambaran hidup anak-anaknya. Jika ditilik dari fungsinya, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama yang membentuk alam spiritual dan moral seorang anak bangsaPendidikan nilai di dalam keluarga merupakan pokok utama bagi bertahannya manusia yang bermartabat dan memiliki jati diri yang utuh.Pendidikan nilai ini tidak bisa dititipkan kepada lembaga pendidikan formal saja, atau kepada Pemerintah, atau diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat, namun harus dimulai dan dibingkai dalam kehidupan keluarga.
Ada beberapa sisi yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan dalam keluarga, yaitu pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan sosial.

a) Pendidikan Iman
Pendidikan iman merupakan pondasi yang kokoh bagi seluruh bagian-bagian pendidikan. Pendidikan iman ini yang akan membentuk kecerdasan spiritual. Komitmen iman yang tertanam pada diri setiap anggota keluarga akan memungkinkannya mengembangkan potensi fitrah dan beragam bakat. Yang dimaksud dengan keimanan adalah keyakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Melihat perbuatan manusia, Tuhan Yang Maha Membalas perbuatan manusia, Tuhan Yang Maha Adil dalam memberikan hukuman dan pembalasan, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala apa yang tampak dan tersembunyi. Inilah hakikat iman yang paling fundamental.Setiap orang merasa dirinya berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan.
Perasaan bertuhan menjadi sebuah landasan imunitas bagi semua manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Seorang ayah akan bekerja dengan benar untuk menghidupi keluarganya karena merasa diawasi oleh Tuhan Yang Maha Melihat. Seorang pejabat akan menunaikan amanah dengan benar, tidak menyalahgunakan wewenang walaupun ada banyak kesempatan ditemui, karena merasa diawasi oleh Tuhan.
Nilai-nilai keimanan harus dijadikan perhatian utama dalam membentuk imunitas keluarga dalam menghadapi arus globalisasi.Penanaman nilai-nilai keimanan dalam keluarga merupakan pengamalan Pancasila khususnya sila pertama. Apabila iman sudah tertanam dengan kuat, akan melahirkan pula kepatuhan manusia terhadap hukum dan aturan yang datang dari Tuhan. Semua hukum dan aturan yang diberikan oleh Tuhan untuk manusia adalah untuk kebaikan kehidupan manusia dan menghindarkan manusia dari kerusakan.Keluarga dibiasakan dan dilatih untuk mentaati hukum dan aturan dari Tuhan, agar kehidupan yang terbangun dapat berada dalam jalan yang benar.
Lebih jauh lagi, keimanan juga membentuk pemikiran dan cara pandang yang khas, yaitu manusia dalam memandang segala sesuatu dengan perspektif ketuhanan. Sebagai manusia beragama, semestinya dituntut memandang segala sesuatu dengan cara pandang yang bertuhan.

b) Pendidikan Moral
Pendidikan moral akan menjadi bingkai kehidupan manusia, setelah memiliki landasan kokoh berupa iman. Pada saat masyarakat mengalami proses degradasi moral, maka penguatan moralitas melalui pendidikan keluarga menjadi semakin signifikan kemanfaatannya. Pada hakekatnya moral adalah ukuran-ukuran nilai yang telah diterima oleh suatu komunitas.Moral berupa ajaran-ajaran atau wejangan, patokan-patokan atau kumpulan peraturan baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Setiap agama memiliki doktrin moral, setiap budaya masyarakat juga memiliki standar nilai moral, yang apabila itu diaplikasikan akan menyebabkan munculnya kecerdasan moral pada indiviudu, keluarga maupun masyarakat dan bangsa.
Pendidikan dalam keluarga juga tidak cukup sebatas upaya preventif terhadap munculnya ketidakbaikan. Eksplorasi optimal terhadap potensi-potensi kebaikan harus dimunculkan secara seimbang dalam keluarga. Pendidikan moral sangat penting membiasakan kebiasaan yang baik dalam hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya, dan antara manusia dengan alam dan lingkungannya.Karena perbuatan baik manusia tidak hanya diatur dan digerakkan oleh faktor hukum, namun juga oleh faktor etika moral atau akhlak. Misalnya ajaran agar berlaku baik kepada tetangga, lebih bercorak ajaran moral daripada hukum. Kalau hukum mengatur dengan sangat detail tentang ketentuan pelaksanaan dan pelanggaran, sedangkan aspek moral lebih bernuansa membangun kesadaran bertindak.

c) Pendidikan Sosial
Pendidikan sosial bermaksud menumbuhkan kepribadian sosial anggota keluarga, agar mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dan menebarkan kontribusi positif bagi upaya perbaikan masyarakat. Pendidikan sosial memunculkan solidaritas sosial yang pada gilirannya akan mengoptimalkan peran sosial seluruh anggota keluarga.
Banyak kenyataan dalam kehidupan keseharian, anak yang disibukkan dengan dunianya sendiri, asyik dengan kecanggihan teknologi, baik itu playstation, handphone, komputer, atau benda teknologi lainnya. Anak mengurung diri di rumah atau kamar, tidak banyak keluar rumah, sehingga orang tua merasa tidak khawatir anaknya akan terkena pengaruh buruk dari pergaulan di luar rumah. Padahal keasyikan semacam itu membuatnya kehilangan kecerdasan sosial yang sangat diperlukan dalam kehidupan.
Kecerdasan intelektual memang sangat penting untuk terus dikembangkan.Namun, kecerdasan yang tidak kalah pentingnya adalah kecerdasan sosial.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sering menyebabkan dehumanisasi, karena telah meminimalisir interaksi sosial.Untuk berkomunikasi dengan tetangga, teman, saudara, bahkan anggota keluarga sendiri, cukup menggunakan sms, telpon, email, fesbuk, twitter, dan lain sebagainya. Untuk itulah keluarga harus memberikan pendidikan sosial yang memadai bagi seluruh anggotanya, agar memiliki kecerdasan sosial yang membuat setiap anggota keluarga mampu berinteraksi sosial secara positif di lingkungan masyarakat maupun lingkungan pergaulan lainnya.


Wahai orang tua! Jangan lupakan pendidikan dalam keluarga. Jagalah diri dan keluargamu serta lingkunganmu dari siksa api neraka. Itulah pesan dari Allah dalam Kitab Suci kita umat Islam. Al Quranul Karim. Bacalah surat Luqman dan perhatikan bagaimana Luqman membesarkan putra-putrinya dalam pendidikan keluarga.



Jambi, 16 September 2013
Idha Mayang Sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn