Kamis, 05 September 2013

Rehabilitasi merupakan solusi terbaik dalam melaksanakan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran gelap Narkotika ( P4GN ), menyongsong Indonesia bebas narkotika tahun 2015.

Maka perlu sarana lokasi dan bangunan  untuk tempat Rehabilitasi, yang korban penyalahguna se Indonesia sebanyak 4.000.000 orang  dan tempat rehabilitasi yang ada baru menampung 18.000 orang, perlu tempat rehabilitasi 1.000 lagi.
Jumlah warga binaan yang  terkait perkara narkotika di Lembaga Pemasyarakatan se Indonesia sebanyak 34.009  orang ( data tahun 2010 ) bila ada dananya yang ada di Lembaga Pemasyarakatan sambil melaksanakan vonis hukumannya dilaksanakan Rehabilitasi, dengan maksud sambil melaksanakan hukumannya sambil di Rehabilitasi, sehingga setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan sembuh dari penyalagunaan narkotika.
Dengan kondisi seperti ini pemerintah perlu berpikir memprioritaskan, mana permasalahan yang besar, yang sangat besar, yang sedang dan ringan serta mana yang ancaman serta  bahayanya sangat berat dan besar.
Mengapa harus berpikir demikian karena jumlah korban narkotika sangat banyak , contoh sebagai berikut :  
1.      Korban penyalahguna se Indonesia 4.000.000 orang
2.      Korban meniggal dunia sehari 51 orang,berarti setahun = 365 hari x 51 orang = 18.615      orang.
3.      Yang masuk penjara = 34.009 orang ( Data tahun 2010 ).
4.      Yang terkena HIV /AIDS = 33.364 orang.
5.       Yang sakit jiwa  (contoh di Provinsi Jambi sebanyak 70 s/d 100 orang setiap tahun).

Bila dibanding dengan korban :
1.    Teroris paling banyak setahun 400 orang meniggal dunia baik yang di bom,ditembak,         ditusuk /dibacok dengan senjata tajam.
2.     Demam berdarah adakah setahun 1.000 orang meninggal dunia se Indonesia.
3.     Flu burung adakah setahun 1000 orang meninggal dunia se Indonesia.

kejadian korban – korban teroris, demam berdarah dan flu burung, hanya diwilayah endemi saja / daerah tertentu saja Cuma didesa atau satu kecamatan dan waktunya tertentu saja.
Tapi narkotika hampir diseluruh wilayah indonesia dan setiap desa, kampung kecamatan, Kabupaten / Kota, dan Provinsi ada dan waktunya hampir setiap saat.
Tapi korban akibat narkoba dari data sangatlah banyak, dari yang meniggal dunia, sakit, sakit jiwa, HIV /AIDS , masuk penjara, gagal sekolah /kuliah, dipecat dari pekerjaan,
Hancurnya generasi penerus bangsa, hancurnya segala sendi kehidupan,( Ideologi, Sosial, Politik, Ekonomi , Budaya ,Pertahanan ,Keamanan, Agama )  serta berkembangnya kegiatan dan pelaku terorist.
Mengapa Rehabilitasi penyalahguna narkoba ini harus diambil alih oleh pemerintah, karena korban penyalahguna dalam lingkungan keluarganya merupakan orang yang membuat aib keluarga, sehingga diacuhkan, disingkirkan, diusir bahkan dibuang.
Sehingga keluarganya acuh, malas untuk melaporkan karena malu apalagi untuk mengeluarkan uang untuk berobat / merehab kecuali bagi orang tua yang mampu dan sangat menyayanginya, mau mengobati  / merehab anaknya yang menjadi korban narkotika,karena biayanya sangat mahal.
Sehingga para pengusaha swasta malas untuk membangun tempat rehab, karena takut rugi atau tidak mendapat keuntungan, lain halnya dengan membangun rumah sakit - rumah sakit swasta yang sangat menjanjikan keuntungan.

Kecuali kedepan para pengusaha swasta yang jiwa sosialnya tinggi untuk membantu sesama saudaranya yang menjadi korban narkotika yang mau membangun tempat Rehabilitasi Narkotika , juga kedepan para pengusaha swasta yang terjun kepolitik,yang sangat amanah dan yang sangat sayang terhadap rakyatnya, atas penderitaan dan kesengsaraan bangsanya.

Jambi, 5 September 2013
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jambi
Kombes Pol Drs. Mohammad Yamin Sumitra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn