Senin, 20 Januari 2014

KERUSAKAN OTAK AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA

KERUSAKAN OTAK AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA


 

 
Ada 4 macam golongan obat-obatan narkoba yang berdampak kepada sistem saraf manusia diantaranya:
1.Sedatif
Obat yang berdampak pada menurunnya aktivitas normal otak. Contohnya valium.

2.Stimulans

Ini merupakan golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Contohnya Kokain.

3.Halusinogen.
Golongan obat ini yang paling sering digunakan para pemakai narkoba di Indonesia. Dampak dari narkoba jenis ini dapat mengakibatkan halusinasi (penghayalan) seakan bermimpi dan membuat orang menjadi malas untuk beraktivitas. Contoh ganja, eksasi dan sabu-sabu.

4.Painkiller
Merupakan obat yang dapat menekan fungsi otak yang bertanggung jawab sebagai rasa sakit. Bisa dikatakan narkoba jenis ini bisa menghilangkan rasa sakit. Contoh morfin dan heroin.


Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.

Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitte tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya.

Efek lain dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah hilangnya kendali otot gerak, kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makan, terjadi kerusakan hati dan lambung, kerusakan alat respirasi, gemetar terus-menerus, terjadi kram perut dan bahkan mengakibatkan kematian. Untuk menyembuhkan para pencandu diperlukan terapi yang tepat dengan mengurangi konsumsi obat-obatan sedikit demi sedikit di bawah pengawasan dokter dan diperlukan dukungan moral dari keluarga serta lingkungannya yang diiringi oleh tekad si pemakai untuk segera sembuh. Hal yang paling penting adalah ditumbuhkannya nilai agama dalam diri si pemakai.

Jambi, 20 Januari 2014
Dr. Zakaria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn