Selasa, 06 Mei 2014

STRATEGI BARU P4GN MELALUI POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)


Meresepon perkembangan permasalahan narkoba yang terus meningkat dan makin serius di dunia saat ini, maka Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan, atau yang dalam Bahasa Inggris disebut United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) menetapkan 5 target utama dalam usaha menanggulangi kejahatan narkoba di masa kini, yaitu:
1. Keluarga (family)
2. Sekolah (school)
3. Komunitas (community)
4. Tempat kerja (work place)
5. Sektor Kesehatan (healthy sector)

Kelima target ini kemudian juga menjadi target/ sasaran dari semua upaya penanggulangan permasalahan narkoba yang terjadi di Indonesia. Sebagai LPNK yang bertugas menangani permasalahan narkoba di Indonesia, maka BNN, BNNP dan BNNK/Kab, dituntut untuk semakin giat melakukan aksi dengan berpedoman pada UU No. 35 Tahun 2009. Di bawah payung hukum ini, dituntut kinerja yang semakin aktif, responsif dan juga humanis  dalam menangani permasalahan Narkoba di Indonesia maupun di dunia pada umumnya. Upaya ini pada kenyataannya tentu membutuhkan keterlibatan dari semua komponen masyarakat dan sektor yang ada, yaitu:
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Pemuda
4. Sosial
5.Tenaga kerja
6. Penegak hukum

                Bercermin pada situasi dan kondisi yang ada di Indonesia sekarang, maka upaya P4GN yang dilakukan oleh BNN selama ini mengalami perkembangan strategi. Jika dahulu berdasarkan pada JAKSTRANAS 2013, upaya P4GN dilakukan dengan cara penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba dan dampaknya, maka sejalan dengan kebijakan UNODC, BNN kemudian menetapkan strategi baru dalam upaya pencegahan kepada himbauan untuk hidup sehat tanpa narkoba (living health) dengan  tujuan meningkatkan prestasi dan talenta yang ada. Upaya ini sudah pastinya disertai pula dengan informasi dan bukti-bukti tentang hidup sehat berdasarkan pada data dari hasil penelitian (evidence).

                Hidup sehat disini artinya bukan berarti harus memiliki peralatan penunjang kesehatan yang lengkap dan memadai, sehingga membutuhkan banyak biaya, namun lebih kepada menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pengertian PHBS disini adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan. (Sumber: www.promkes.depkes.go)
 
                Strategi pencegahan berupa himbauan untuk Hidup Sehat melalui PHBS ini tentunya harus disesuaikan dengan sasaran/ target sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagai contoh, pola hidup sehat dengan sasaran/ target keluarga, sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Surabaya, dr. Sri Setyani, bahwasanya suatu negara yang sehat berawal dari diri sendiri dan keluarga yang sehat pula. PHBS dalam keluarga atau lingkungan rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota keluarga/rumah tangga, agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Terdapat 10 indikator PHBS di dalam rumah tangga, yakni:
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberikan bayi ASI Esklusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan pakai sabun
6. Gunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah.

Pola hidup sehat dan bersih dalam keluarga ini juga melingkupi kesehatan secara fisik dan mental, yang dapat diwujudkan melalui pola makan teratur dengan gizi yang seimbang, istirahat cukup, kegiatan reproduksi yang sehat dan kegiatan beribadah yang rajin. Jika ditinjau kembali keterkaitan antara PHBS dalam keluarga dengan upaya penanggulangan permasalah narkoba, maka pencegahan dapat dilakukan melalui peran seorang Ibu. Seorang ibu merupakan penjaga benteng utama masuknya narkoba dalam keluarga. Seorang ibu yang sehat dan sadar akan bahaya narkoba, akan mampu membentengi keluarganya dari pengaruh narkoba. Salah satu contohnya yang menjadi perhatian utama kemudian adalah kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu dan anak yang diawali dari anak dalam kandungan hingga anak usia sekolah.
Pertumbuhan dan perkembangan anak, dapat dibedakan berdasarkan usia, yakni:
1. Usia 0-2 tahun: mulai saat anak dalam kandungan hingga usia 2 tahun, dimana kesehatan ibu juga menjadi perhatian utama disamping kesehatan anak pasca kelahiran.
2. Usia 2-4 tahun: mulai saat anak usia 2 tahun hingga usia 4 tahun. Pada usia ini anak diajarkan untuk berperilaku baik dan sehat, seperti mandi rutin, sikat gigi, dsb.
3. Usia 4-6 tahun: mulai anak usia 4- 6 tahun. Saat inilah anak diajarkan pada lingkungan sekitar dan beribadah melalui perintah maupun contoh dari orang tua secara langsung.

Kesehatan reproduksi juga menjadi hal penting, karena memberikan pengaruh bagi keharmonisan rumah tangga yang nantinya juga berakhir pada tumbuh kembang anak dalam keluarga. Beberapa hal yang menjadi patokan dalam kegiatan reproduksi yang sehat, antara lain:
  1. Di dalam lingkungan yang bersih dan sehat
  2. Tanpa ada paksaan
  3. Tidak berganti-ganti pasangan
  4. Pastikan pasangan bebas dari penyakit kelamin dan penyakit mematikan lainnya, seperti HIV.
  5. Penggunaan alat kontrasepsi secara tepat
  6. Penggunaan obat-obatan sesuai izin.
Kesehatan reproduksi ini juga terkait erat dengan kesehatan anak pada usia dini, baik secara mental maupun fisik. Kesehatan anak usia dini dapat terbagi dalam tiga kelompok:
1. Kelompok ibu hamil
2. Kelompok ibu menyusui
3. kelompok ibu yang mempunyai anak usia Balita

 Kesehatan anak secara mental sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu sejak hamil. Kesehatan ibu hamil menjadi sangat penting, mengingat masih tingginya tingkat kematian ibu saat dan pasca melahirkan. Kesehatan ibu hamil dapat dibagi ke dalam 3 tahap semester, yakni:
 1. Semester I: merupakan tri wulan pertama (1-3 bulan). Kesehatan utama pada pembentukan dan penguatan janin dalam kandungan. Di fase ini, kegiatan seksual sebaiknya dikurangi, karena keberadaan janin sangat terpengaruh. Konsumsi obat-obatan atas anjuran dan izin petugas kesehatan semata. Oleh karena itu, penyalahgunaan narkoba sangat dilarang karena memberikan pengaruh langsung pada kesehatan janin dalam kandungan.
2. Semester II: merupakan tri wulan kedua (4-6 bulan). Janin mulai pembentukan organ tubuh yang sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Pada masa ini, hormone kehamilan meningkat, sehingga ibu hamil sering kali mengalami gangguan kesehatan, gangguan pencernaan. Pada masa ini dianjurkan banyak mengkonsumsi buah dan sayur dan air putih. Pada tahap ini jelas sekali terlihat bahaya narkoba bagi ibu hamil karena dapat membuat kecacatan pada janin, selain kerusakan sel-sel pada anak yang dikandung.
3. Semester III: merupakan tri wulan ketiga (7-9 bulan). Tahap ini merupakan tahap penyempurnaan janin. Pada tahap ini, janin sudah mampu mendengarkan, bergerak dan merasakan apa yang ibu berikan. Disarankan untuk memberikan stimulus berupa music klasik maupun doa-doa (mengaji) untuk meningkatkan kemampuan otak  (IQ) dan ketenangan jiwa (SQ), yang pada akhirnya akan terwujud dalam kemampuan perilaku  (EQ) saat lahir. Dalam Agama Islam, ada sejumlah surat yang sebaiknya dibaca oleh ibu hamil antara lain: Surat Yusuf, Surat Maryam, Surat Al Waqi’ah, Surat ar-Rohman, Surat Al Muluk, Surat Al Kahfi, dan Surat Yasin. Pada tahap ini pula kegiatan seksual pasangan dianjurkan karena dapat membantu membuka jalan lahir bagi bayi yang nantinya diharapkan menurunkan permasalahan/komplikasi saat melahirkan.

                Kesehatan ibu dan anak pasca kelahiran juga tidak kalah pentingnya, karena tumbuh dan kembang anak pada usia ini sangat bergantung pada peran sang ibu. Kesadaran ibu akan nutrisi dan bahaya narkoba menjadi faktor penentu bagi perkembangan otak anak. Tahap ini masuk dalam kelompok Ibu menyusui, dimana ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi kesehatan anak, antara lain:
1. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
2. Pemberian makanan tambahan pendamping ASI setelah usia 6 bulan
3. Pemberian makanan bergizi lainnya setelah usia semakin bertambah
4. Hindari lingkungan yang kurang baik dan kurang sehat, seperti lingkungan perokok
5. Melakukan komunikasi interpersonal secara aktif dan baik

                Pada kelompok ibu memiliki balita, tahap pembelajaran secara sosial melalui keluarga dan lingkungan sekitar untuk menumbuhkan perilaku positif mulai dilakukan. Mengingat usia balita inilah dikenal dengan usia emas (golden age). Melalui keluarga, peran ibu khususnya, maka penyebaran narkoba diharapkan dapat ditekan, sehingga generasi muda nantinya dapat terhindar dari bahaya narkoba dan imun serta mampu menolak narkoba.

BERPRESTASI TANPA NARKOBA,… ITU PASTI!!!
NARKOBA.... NO!!!, PRESTASI....YES!!!

Hasil Rapat Koordinasi Bidang Rehabilitasi di Redtop Hotel, Jakarta Pusat tanggal 28 s.d 29 April 2014 dibahas dan ditulis oleh Tim PNS BNN Provinsi Jambi dan Tim Penyuluh BNN Provinsi Jambi pada tanggal 5 Mei 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn