Jumat, 09 Mei 2014

STRATEGI BARU P4GN MELALUI POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)


STRATEGI BARU P4GN MELALUI POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

Meresepon perkembangan permasalahan narkoba yang terus meningkat dan makin serius di dunia saat ini, maka Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan, atau yang dalam Bahasa Inggris disebut United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) menetapkan 5 target utama dalam usaha menanggulangi kejahatan narkoba di masa kini, yaitu:
1. Keluarga (family)
2. Sekolah (school)
3. Komunitas (community)
4. Tempat kerja (work place)
5. Sektor Kesehatan (healthy sector)

Kelima target ini kemudian juga menjadi target/ sasaran dari semua upaya penanggulangan permasalahan narkoba yang terjadi di Indonesia. Sebagai LPNK yang bertugas menangani permasalahan narkoba di Indonesia, maka BNN, BNNP dan BNNK/Kab, dituntut untuk semakin giat melakukan aksi dengan berpedoman pada UU No. 35 Tahun 2009. Di bawah payung hukum ini, dituntut kinerja yang semakin aktif, responsif dan juga humanis  dalam menangani permasalahan Narkoba di Indonesia maupun di dunia pada umumnya. Upaya ini pada kenyataannya tentu membutuhkan keterlibatan dari semua komponen masyarakat dan sektor yang ada, yaitu:
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Pemuda
4. Sosial
5.Tenaga kerja
6. Penegak hukum

                Bercermin pada situasi dan kondisi yang ada di Indonesia sekarang, maka upaya P4GN yang dilakukan oleh BNN selama ini mengalami perkembangan strategi. Jika dahulu berdasarkan pada JAKSTRANAS 2013, upaya P4GN dilakukan dengan cara penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba dan dampaknya, maka sejalan dengan kebijakan UNODC, BNN kemudian menetapkan strategi baru dalam upaya pencegahan kepada himbauan untuk hidup sehat tanpa narkoba (living health) dengan  tujuan meningkatkan prestasi dan talenta yang ada. Upaya ini sudah pastinya disertai pula dengan informasi dan bukti-bukti tentang hidup sehat berdasarkan pada data dari hasil penelitian (evidence).

                Hidup sehat disini artinya bukan berarti harus memiliki peralatan penunjang kesehatan yang lengkap dan memadai, sehingga membutuhkan banyak biaya, namun lebih kepada menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pengertian PHBS disini adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan. (Sumber: www.promkes.depkes.go)
 
                Strategi pencegahan berupa himbauan untuk Hidup Sehat melalui PHBS ini tentunya harus disesuaikan dengan sasaran/ target sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagai contoh, pola hidup sehat dengan sasaran/ target keluarga, sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Surabaya, dr. Sri Setyani, bahwasanya suatu Negara yang sehat berawal dari diri sendiri dan keluarga yang sehat pula. PHBS dalam keluarga atau lingkungan rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota keluarga/rumah tangga, agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Terdapat 10 indikator PHBS di dalam rumah tangga, yakni:
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberikan bayi ASI Esklusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan pakai sabun
6. Gunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah.

Pola hidup sehat dan bersih dalam keluarga ini juga melingkupi kesehatan secara fisik dan mental, yang dapat diwujudkan melalui pola makan teratur dengan gizi yang seimbang, istirahat cukup, kegiatan reproduksi yang sehat dan kegiatan beribadah yang rajin. Jika ditinjau kembali keterkaitan antara PHBS dalam keluarga dengan upaya penanggulangan permasalah narkoba, maka pencegahan dapat dilakukan melalui peran seorang Ibu. Seorang ibu merupakan penjaga benteng utama masuknya narkoba dalam keluarga. Seorang ibu yang sehat dan sadar akan bahaya narkoba, akan mampu membentengi keluarganya dari pengaruh narkoba. Salah satu contohnya yang menjadi perhatian utama kemudian adalah kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu dan anak yang diawali dari anak dalam kandungan hingga anak usia sekolah. 
Pertumbuhan dan perkembangan anak, dapat dibedakan berdasarkan usia, yakni:
1. Usia 0-2 tahun: mulai saat anak dalam kandungan hingga usia 2 tahun, dimana kesehatan ibu juga menjadi perhatian utama disamping kesehatan anak pasca kelahiran.
2. Usia 2-4 tahun: mulai saat anak usia 2 tahun hingga usia 4 tahun. Pada usia ini anak diajarkan untuk berperilaku baik dan sehat, seperti mandi rutin, sikat gigi, dsb.
3. Usia 4-6 tahun: mulai anak usia 4- 6 tahun. Saat inilah anak diajarkan pada lingkungan sekitar dan beribadah melalui perintah maupun contoh dari orang tua secara langsung.

Kesehatan reproduksi juga menjadi hal penting, karena memberikan pengaruh bagi keharmonisan rumah tangga yang nantinya juga berakhir pada tumbuh kembang anak dalam keluarga. Beberapa hal yang menjadi patokan dalam kegiatan reproduksi yang sehat, antara lain:
  • Di dalam lingkungan yang bersih dan sehat
  • Tanpa ada paksaan 
  • Tidak berganti-ganti pasangan
  • Pastikan pasangan bebas dari penyakit kelamin dan penyakit mematikan lainnya, seperti HIV.
  • Penggunaan alat kontrasepsi secara tepat
  • Penggunaan obat-obatan sesuai izin petugas kesehatan
Kesehatan reproduksi ini juga terkait erat dengan kesehatan anak pada usia dini, baik secara mental maupun fisik. Kesehatan anak usia dini dapat terbagi dalam tiga kelompok:
1. Kelompok ibu hamil
2. Kelompok ibu menyusui
3. kelompok ibu yang mempunyai anak usia Balita

 Kesehatan anak secara mental sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu sejak hamil. Kesehatan ibu hamil menjadi sangat penting, mengingat masih tingginya tingkat kematian ibu saat dan pasca melahirkan. Kesehatan ibu hamil dapat dibagi ke dalam 3 tahap semester, yakni:
 1. Semester I: merupakan tri wulan pertama (1-3 bulan). Kesehatan utama pada pembentukan dan penguatan janin dalam kandungan. Di fase ini, kegiatan seksual sebaiknya dikurangi, karena keberadaan janin sangat terpengaruh. Konsumsi obat-obatan atas anjuran dan izin petugas kesehatan semata. Oleh karena itu, penyalahgunaan narkoba sangat dilarang karena memberikan pengaruh langsung pada kesehatan janin dalam kandungan.
2. Semester II: merupakan tri wulan kedua (4-6 bulan). Janin mulai pembentukan organ tubuh yang sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Pada masa ini, hormone kehamilan meningkat, sehingga ibu hamil sering kali mengalami gangguan kesehatan, gangguan pencernaan. Pada masa ini dianjurkan banyak mengkonsumsi buah dan sayur dan air putih. Pada tahap ini jelas sekali terlihat bahaya narkoba bagi ibu hamil karena dapat membuat kecacatan pada janin, selain kerusakan sel-sel pada anak yang dikandung.
3. Semester III: merupakan tri wulan ketiga (7-9 bulan). Tahap ini merupakan tahap penyempurnaan janin. Pada tahap ini, janin sudah mampu mendengarkan, bergerak dan merasakan apa yang ibu berikan. Disarankan untuk memberikan stimulus berupa music klasik maupun doa-doa (mengaji) untuk meningkatkan kemampuan otak  (IQ) dan ketenangan jiwa (SQ), yang pada akhirnya akan terwujud dalam kemampuan perilaku  (EQ) saat lahir. Dalam Agama Islam, ada sejumlah surat yang sebaiknya dibaca oleh ibu hamil antara lain: Surat Yusuf, Surat Maryam, Surat Al Waqi’ah, Surat ar-Rohman, Surat Al Muluk, Surat Al Kahfi, Surat Yasin. Pada tahap ini pula kegiatan seksual pasangan dianjurkan karena dapat membantu membuka jalan lahir bagi bayi yang nantinya diharapkan menurunkan permasalahan/komplikasi saat melahirkan.

                Kesehatan ibu dan anak pasca kelahiran juga tidak kalah pentingnya, karena tumbuh dan kembang anak pada usia ini sangat bergantung pada peran sang ibu. Kesadaran ibu akan nutrisi dan bahaya narkoba menjadi faktor penentu bagi perkembangan otak anak. Tahap ini masuk dalam kelompok Ibu menyusui, dimana ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi kesehatan anak, antara lain:
1. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
2. Pemberian makanan tambahan pendamping ASI setelah usia 6 bulan
3. Pemberian makanan bergizi lainnya setelah usia semakin bertambah
4. Hindari lingkungan yang kurang baik dan kurang sehat, seperti lingkungan perokok
5. Melakukan komunikasi interpersonal secara aktif dan baik

                Pada kelompok ibu memiliki balita, tahap pembelajaran secara sosial melalui keluarga dan lingkungan sekitar untuk menumbuhkan perilaku positif mulai dilakukan. Mengingat usia balita inilah dikenal dengan usia emas (golden age). Melalui keluarga, peran ibu khususnya, maka penyebaran narkoba diharapkan dapat ditekan, sehingga generasi muda nantinya dapat terhindar dari bahaya narkoba dan imun serta mampu menolak narkoba.

BERPRESTASI TANPA NARKOBA,… ITU PASTI!
NARKOBA NO, PRESTASI YES!!!!……



NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA (NAPZA) DENGAN KESEHATAN
DASAR HUKUM
1.UNDANG – UNDANG NO 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA
2.UNDANG – UNDANG NO 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA
3.UNDANG – UNDANG NO 36 TENTANG KESEHATAN

PERATURAN PERUNDANG - UNDANGAN
- UU RI. NO 35 TAHUN 2009 : PASAL 1 TENTANG NARKOTIKA
 NARKOTIKA  ADALAH  ZAT ATAU OBAT YANG BERASAL DARI TANAMAN ATAU BUKAN TANAMAN, BAIK SINTESIS MAUPUN SEMI SINTESIS.
-UU RI. NO 5 TAHUN 1997 : PASAL 1 TENTANG PSIKOTROPIKA
PSIKOTROPIKA  ADALAH  ZAT ATAU OBAT BAIK ALAMIAH MAUPUN SINTETIS BUKAN NARKOTIKA YANG BERKHASIAT PSIKOAKTIF MELALUI PENGARUH SELEKTIF PADA SUSUNAN SYARAF PUSAT.

DAMPAK KESEHATAN BAGI PENGGUNA NAPZA (NARKOBA)
KONTRA INDIKASI NARKOTIKA :
1.    MENURUNNYA ATAU PERUBAHAN TINGKAT KESADARAN,
2.    HILANGNYA RASA,
3.    MENGURAI RASA NYERI
4.    DAPAT MENIMBULKAN KETERGANTUNGAN. 
KONTRA INDIKASI PSIKOTROPIKA :
1.   PERUBAHAN MENTAL DAN PERILAKU
     TIGA GOLONGAN NAPZA BERDASARKAN SIFAT PENGARUHNYA TERHADAP PEMAKAI
1.      Stimulan: merangsang sistem saraf pusat
2.      Depresan: menekan sistem saraf pusat
3.      Halusinogen: mengacaukan sistem saraf pusat
1.      STIMULAN
  Menimbulkan perasaan segar, bersemangat, tidak lelah, tidak lapar, rasa nikmat, bahagia, disorientasi mental, rasa cemas tinggi, mudah tersinggung, gugup, sulit tidur, mual-mual, merasa haus terus menerus, keringat dingin, hipertensi
    Memberikan rasa nikmat, bahagia.
  Amphetamine, Metamphetamine (Shabu), XTC–Ecstasy (3,4 methylenedioxy-N-Methylamphetamine), Kokain/Crack, Kafein, Alkohol*, marijuana*
2.      DEPRESAN
  Efek mengantuk sampai tidur, menimbulkan perasaan nyaman dan tenang, mempengaruhi koordinasi gerakan, konsentrasi
  Opiat : heroin (PT), Barbiturat : hipnotik – sedative, Marijuana – Ganja, Oxycodon (oxyContin), Benzodiazepin, alkohol
3.      HALUSINOGEN
  Menyebabkan halusinasi, sangat dipengaruhi oleh perasaan saat itu, dapat menyebabkan perilaku yang memalukan atau membahayakan

DAMPAK KESEHATAN BAGI PENGGUNA NAPZA/ NARKOBA
1. Gangguan pada Otak
   - Perdarahan otak  
   - Gangguan jiwa  
   - Sel syaraf lumpuh/Mati                                                           
   - Kejang
2. Gangguan Pada Penglihatan
    - Pupil membesar 
    - Kebutaan            
    - Gangguan penglihatan
3. Gigi dan Mulut
   - Gigi keropos      
   - Kanker mulut     
4.. Gangguan Pada Sumsum Tulang
   - Gangguan produksi sel darah merah
5. Gangguan Tenggorokan dan Paru
   - Gangguan pernafasan 
   - Kanker paru                 
   - Paru bengkak               
   - Rusaknya selaput lendir 
6. Gangguan pada Jantung
   - Gangguan jantung
   - Hipertensi
7. Gangguan Payudara
   -Kanker            
8. Gangguan Sistem Pembuluh darah
   - Pecahnya pembuluh darah 
9. Gangguan Pada Janin
   - Pertumbuhan terhambat
   - Abortus
   - Keterbelakangan Mental                                         
10. Gangguan pada Hepar
    -Gangguan hati (sirosis) 
    -Rusaknya sel hati          
11. Gangguan Pada Sistem Pencernakan
    -Kanker usus,gangguan lambung
    -Perdarahan usus                         
12. Gangguan Organ Reproduksi
    -Impotensi                                   

PERAN DINKES PROVINSI DALAM PENGAWASAN  NAPZA (NARKOBA)
 
TUJUAN PENGAWASAN OBAT PSIKOTROPIKA
1. MENJAMIN KETERSEDIAAN PSIKOTROPIKA GUNA KEPENTINGAN PELAYANAN KESEHATAN DAN ILMU PENGETAHUAN
2.    MENCEGAH TERJADINYA PENYALAHGUNAAN PSIKOTROPIKA
3. MEMBERANTAS PEREDARAN GELAP PSIKOTROPIKA PENGAWASAN DI PROVINSI JAMBI PENGAWASAN ADMINISTRASI MELIPUTI :
1.   PROSES PESANAN DILAKUKAN HARUS :
-       OLEH APOTEKER YANG MEMILIKI SIPA (SURAT IZIN PRAKTEK APOTEKER )
-       PESANAN DITULIS DALAM LEMBAR KHUSUS PESANAN NARKOTIKA
-       PESANAN DITUJUKAN KE DISTRIBUTOR RESMI / PENYALUR OBAT NARKOTIKA
2. OBAT NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA DISIMPAN DALAM LEMARI TERKUNCI (KHUSUS NARKOTIKA MENGGUNAKAN DOUBLE KUNCI )
3.   PEMASUKAN DAN PENGELUARAN DICATAT DALAM KARTU STOCK
4. PENGELUARAN OBAT NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA HANYA BOLEH DIBERIKAN KEPADA PASIEN DENGAN MENYERAHKAN RESEP ASLI DARI DOKTER
5. LAPORAN OBAT NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA DISAMPAIKAN SETIAP SATU BULAN SEKALI DITUJUKAN KE : BALAI BESAR PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN ( BBPOM ), DINKES PROVINSI JAMBI DENGAN SISTIM PELAPORAN NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA ( SIPNAP) ON LINE

INFORMASI OBAT DEKSTROMETORFAN
PENYALAHGUNAAN DEKSTROMETORFAN
* Temuan di Lapangan
Pengadaan bahan baku tidak berdasarkan estimasi penggunaan, hanya berdasarkan permintaan marketing
      Penyaluran obat ke PBF tanpa dilengkapi surat pesanan
      Pengiriman obat menggunakan jasa ekspedisi tanpa dilengkapi dengan dokumen penyaluran
      Penyaluran obat dalam jumlah besar tanpa dilengkapi dengan bukti dokumen
      Sarana distribusi memberikan data penyaluran palsu ke apotek
               
Hasil Rapat Koordinasi Bidang Rehabilitasi di Redtop Hotel, Jakarta Pusat dihadiri oleh Kepala BNN Provinsi Jambi tanggal 28 s.d 29 April 2014 dibahas dan ditulis oleh Team PNS BNN Provinsi Jambi, Team Penyuluh BNN Provinsi Jambi dan Materi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi pada tanggal 5 Mei 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn