Rabu, 10 September 2014

BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BNN PROVINSI JAMBI

LAPORAN HASIL PELATIHAN PEMANTAPAN PROGRAM KONSELING BAGI “KONSELOR ADIKSI KURIKULUM 1 DAN 2”.
JAKARTA, 01 S/D 06 SEPTEMBER 2014.


KURIKULUM I : FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI UNTUK PROFESIONAL ADIKSI

Pelatihan ini menyediakan pemahaman dari Fisiologi Adiksi sebagai sebuah penyakit otak dan efek konsekuensi dari zat – zat psikoaktif.

Pengguna zat Psikoaktif merupakan masalah global, sebanyak 149 – 272 Juta orang pernah menggunakan zat ilegal pada tahun 2009 yang diantaranya :

a.         11 – 21 Juta orang menyuntik zat
b.        18 % jumlah itu mengidap HIV
c.         50 % menggunakan suntikan terinfeksi virus hepatitis – C

Sedangkan Perbandingan penggunaan zat Psikoaktif tersebut di Indonesia yaitu :

-  Pada tahun 2009 terdapat 3,6 juta pengguna narkoba, dimana 900 ribu orang diantaranya menjadi pecandu s/d maret 2011.
-   Secara komulatif jumlah kasus Aids yang dilaporkan sebanyak 24.482 kasus, dimana penasun (Pengguna Napza Suntik) menyumbang angka penularan sebanyak 37,9 %.

Zat Psikoaktif merupakan zat / obat-obatan yang mempengaruhi sistem syaraf pusat pada tubuh yang merubah mood, pikiran, persepsi dan perilaku seseorang terhadap kejadian di sekitar mereka.

Klasifikasi zat psikoaktif.
1.         Stimulan : kokain, amfetamin, methamfetamin, nikotin, kafein,
2.         Opiad (Narkotik) : heroin, morfin, opium, demerol.
3.         Depresam : alkohol, barbiturat, benzodiazepin, gamma hydroxybutyrate.
4.         Halusinogen : LSD, mescaline deyote, ekstasi, mushrooms.
5.         Golongan zat lain : kanabinoid (ganja, marijuana, hashish), khat

Rute pengguna zat psikoaktif ini apabila makin cepat  zat masuk ke otak, makin besar dan kuat efek yang ditimbulkan dari pengguna tersebut.

-            Dirokok/ dihisap (Smoking) : 7 – 10 Detik
-            Disuntik melalui intravena : 15 – 30 Detik
-            Disuntik kedalam otot / dibawah kulit : 3 – 5 menit

Melalui pemahaman zat psikoaktif diatas, melalui sains (ilmu pengetahuan) “Adiksi” merupakan penyakit yang menyerang fungsi otak bersifat kronis memiliki resiko kambuh yang tinggi, yang ditandai dengan pencarian di pengguna kompulsif. Meskipun mengetahui memiliki konsekuensi yang membahayakan karena adiksi secara alamiah berjalan kronis maka kekambuhan bukannya tidak mungkn, tetapi hal yang biasa terjadi.

KURIKULUM II : “TERAPI GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT BUATAN BERKELANJUTAN UNTUK PROFESIONAL ADIKSI”

Secara individual, orang tidak pernah bisa benar-benar memprediksi siapa yang akan berhasil dengan baik dalam terapi dan siapa yang tidak. Terlalu banyak faktor (termasuk faktor waktu) yang dapat mempengaruhi terapi. Memahami faktor – faktor ini membantu konselor untuk dapat merencanakan layanan terapi dan manajemen kasus.

Menurut penelitian, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil terapi yaitu :
1.         Karakteristik individu dalam menjalani terapi.
2.         Sifat di tingkat kepatuhan masalah mereka.
3.         Proses perawatan dan layanan yang diberikan.
4.         Kondisi lingkungan dan sosial (termasuk keluarga) baik sebelum terapi maupun setelah terapi.
5.         Interaksi diantara faktor – faktor diatas.

Berdasarkan faktor – faktor diatas, penelitian menunjukkan bahwa konsep kapital pemulihan adalah konsep yang tepat digunakan dalam proses rehabilitasi. Konsep kapital pemulihan yaitu penjumlahan dari sumber daya personal dan sosial pada satu wadah untuk menghadapi ketergantungan zat dan utamanya meningkatkan kapasitas dan kesempatan seseorang untuk pulih. Konsep kapital pemulihan ini melibatkan pengindentifikasian dan pembangunan atas aset sosial dan pribadi. Beberapa aset mungkin masih berfungsi dengan baik dan beberapa mungkin telah dikembangkan pada awal kehidupan klien dan kemudian hilang melalui kecanduan kapital pemulihan yang tidak pernah ada dalam kehidupan klien juga dapat dikembangkan. Dukungan sosial dapat diarahkan dan klien dapat mempelajari keterampilan baru yang mendukung pemulihan.

Melalui pendekatan kapital pemulihan tersebut, Indonesia mengadopsi kurikulum ini untuk meningkatkan kompetensi konselor yang bekerja membandu pecandu di Indonesia melalui kerjasama antara Dewan Sertifikasi Konselor Adiksi Indonesia (DSKAI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Colombo Plan For Asian Center For Certification and Education of Addiction Professionals (ACCE).

Tujuan utama dari rangkumam pelatihan adalah untuk mengurangi masalah kesehatan, sosial dan ekonomi secara signifikasi yang terkait gangguan penyalahgunaan Zat (GPZ), dengan membangun kapasitas terapi bertaraf Internasional melalui pelatihan, menumbuhkan sikap profesional, dan memperbanyak tenaga kerja terapi global. Pelatihan ini mempersiapkan para konselor – konselor untuk mendapatkan sertifikat profesional dalam tahap dasar dengan menyediakan informasi terkini tentang GPZ dan terapi. Dan memfasilitasi aktivitas secara langsung untuk mengembangkan keahlian, kepercayaan diri dan kompetensi.


KEEP CALM AND CHOOSE LIFE.....
REHABILITATION


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn