
Sherly Meidya Ova, M.Psi., Psikolog dan Duwi Puspitasari
Penyalahgunaan narkotika bukan sekadar persoalan hukum, melainkan juga ancaman serius bagi masa depan generasi muda. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2023 menunjukkan terdapat 3,33 juta pengguna narkotika di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 312 ribu orang merupakan remaja berusia 15–25 tahun. Angka ini menggambarkan bahwa remaja menjadi salah satu kelompok sasaran utama peredaran narkotika.
Namun, kerentanan ini tidak berarti tak ada cara untuk membangun ketahanan diri. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu remaja berkata “tidak” pada narkoba adalah melalui penerapan Health Belief Model (HBM)—sebuah teori psikologi kesehatan yang menekankan pentingnya persepsi individu dalam mengambil keputusan terkait kesehatan.
Health Belief Model dikembangkan pada tahun 1950 hingga 1990-an oleh Irwin Rosenstock, awalnya untuk memahami mengapa orang enggan mengikuti program pencegahan penyakit. Teori ini berasumsi bahwa seseorang akan terdorong melakukan perilaku sehat jika:
- Mereka merasa dirinya berisiko terhadap masalah tertentu (perceived susceptibility).
- Menganggap masalah itu serius (perceived severity).
- Percaya bahwa tindakan pencegahan membawa manfaat nyata (perceived benefits).
- Mampu mengatasi hambatan yang mungkin muncul (perceived barriers).
- Mendapatkan pemicu untuk bertindak (cues to action).
- Yakin akan kemampuannya untuk melakukannya (self-efficacy).
Dalam konteks pencegahan narkoba pada remaja, HBM dapat diimplementasikan dengan:
- Perceived Susceptibility/Sadar Risiko
Mengedukasi mereka bahwa siapa pun, termasuk yang “hanya mencoba sekali”, berisiko mengalami ketergantungan.
- Perceived Severity/Sadar Bahaya
Penekanan pada konsekuensi serius seperti gangguan kesehatan mental, kerusakan organ, penurunan prestasi akademik, dan ancaman hukum akan meningkatkan persepsi keseriusan.
- Perceived Benefits/ Manfaat Menolak
Memperlihatkan manfaat hidup bebas narkoba—seperti kebebasan menentukan masa depan, menjaga kesehatan, dan mempertahankan hubungan sosial yang sehat—akan memperkuat alasan positif untuk menolak.
- Perceived Barriers/Atasi Hambatan
Hambatan seperti rasa takut kehilangan teman atau dianggap “tidak gaul” perlu diatasi dengan latihan keterampilan komunikasi asertif dan simulasi penolakan yang santun namun tegas, seperti mengatakan, “Nggak, aku nggak mau ikut yang beginian,” sambil tetap menjaga sikap sopan.
Selain itu, memilih lingkaran pertemanan yang mendukung gaya hidup sehat agar tidak mudah terpengaruh ajakan negatif, dan manfaatkan hobi atau aktivitas positif sebagai pengalihan yang bermanfaat ketika menghadapi situasi berisiko.
- Cues to Action/Pemicu Tindakan
Bangunlah pemicu tindakan dengan menempelkan kutipan motivasi atau visual anti-narkoba di kamar, tas, atau buku catatan sebagai pengingat sehari-hari, menghadiri seminar atau kampanye sekolah tentang bahaya narkoba, serta mendengarkan kisah nyata dari mantan pengguna untuk menumbuhkan kesadaran yang mendalam.
Bagi remaja, langkah ini bermanfaat karena memadukan rangsangan visual yang terus-menerus mengingatkan pada pilihan sehat, pengetahuan faktual yang memperkuat pemahaman akan risiko narkoba, dan pengalaman emosional yang membentuk empati sekaligus rasa takut yang sehat.
- Self-Efficacy
Tingkatkan rasa percaya diri dengan mengikuti kegiatan yang membangun seperti olahraga, seni, atau organisasi, lalu lakukan simulasi penolakan bersama teman atau guru pembimbing untuk melatih respons yang siap dan mantap. Rayakan setiap keberhasilan menolak ajakan negatif sebagai kemenangan pribadi yang membuktikan bahwa “kamu mampu mengendalikan pilihan hidupmu”.
Langkah ini sangat bermanfaat bagi remaja karena kegiatan positif tidak hanya mengasah keterampilan dan bakat, tetapi juga membentuk rasa percaya diri yang menjadi benteng kuat saat menghadapi tekanan dari lingkungan. Simulasi penolakan membantu remaja terbiasa bersikap tegas tanpa rasa takut atau canggung, sementara merayakan keberhasilan memberikan dorongan emosional yang memperkuat motivasi untuk konsisten memilih jalan yang sehat dan bebas dari narkoba.
Referensi
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. (2025). BNN edukasi MABA UI, Cegah Narkoba Di Kalangan Remaja. https://bnn.go.id/bnn-edukasi-maba-ui-cegah-narkoba-di-kalangan-remaja/
Fadaei MH, Farokhzadian J, Miri S, Goojani R. (2020). Promoting Drug Abuse Preventive Behaviors In Adolescent Students Based On The Health Belief Model. Int J Adolesc Med Health. 6;34(3). doi: 10.1515/ijamh-2019-0170. PMID: 32031973.
Rosenstock, I. M., Strecher, V. J., & Becker, M. H. (1988). Social learning theory and the Health Belief Model. Health Education Quarterly, 15(2), 175–183. https://doi.org/10.1177/109019818801500203



