
Sherly Meidya Ova, M.Psi., Psikolog dan Duwi Puspitasari
Remaja menjadi sasaran empuk sindikat narkoba karena berada pada masa pencarian jati diri, rasa ingin tahu tinggi, dan mudah terpengaruh tren digital. Jika dulu pengedar mendekati korban secara langsung, kini media sosial menjadi jalur “halus” yang sulit terdeteksi.
Kepala BNN Kota Cimahi menyebut narkotika kerap masuk lewat pergaulan bebas dan bujukan di platform seperti Instagram atau Facebook, lalu transaksi dilakukan dengan sistem “tempel” tanpa tatap muka sehingga menyulitkan pelacakan. Sindikat memanfaatkan psikologi remaja—ingin terlihat keren, takut ketinggalan tren, dan haus pengakuan teman sebaya.
Studi Hu dkk. (2021) mengungkap bahwa pengedar bahkan menyaring calon pembeli dari postingan Instagram. Sementara itu, riset Umar dkk. (2025) menemukan bahwa sindikat internasional memanfaatkan teknologi canggih seperti chatbot di aplikasi Telegram untuk mempermudah komunikasi, cryptocurrency untuk menjaga anonimitas transaksi, dan sistem pembagian wilayah operasi yang rapi agar setiap jaringan tidak mudah terungkap.
Tawaran gaya hidup “bebas” atau “eksklusif” di media sosial sering terlihat menggiurkan, padahal berisiko besar. Begitu terjerat, remaja bukan hanya menghadapi bahaya kesehatan, tetapi juga risiko hukum dan masa depan yang rusak. Karena celah inilah, membekali remaja dengan keterampilan sosial untuk menolak ajakan, membaca tanda-tanda manipulasi, dan mengelola tekanan teman sebaya menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.
Life Skills Training (LST) hadir sebagai salah satu jawabannya. Program edukasi seperti Life Skills Training (LST) terbukti efektif karena tidak hanya memberi informasi tentang bahaya narkoba, tetapi juga proses pembelajaran yang membekali individu dengan keterampilan hidup, seperti berpikir kritis dan kreatif, mengambil keputusan yang tepat, berkomunikasi secara efektif, serta membangun hubungan interpersonal yang sehat dan konsep diri yang positif.
Bagaimana Langkah-Langkahnya?
1. Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis
LST melatih remaja untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi yang mereka terima. Caranya:
a. Ajak remaja untuk tidak langsung percaya pada informasi yang mereka terima, terutama dari akun atau orang yang tidak dikenal di media sosial. Ajarkan mereka untuk mencari tahu motif di balik setiap pesan atau tawaran. Contohnya, tawaran “kerja sampingan mudah dengan gaji besar” atau ajakan yang dikemas dengan bahasa gaul yang mencurigakan.
b. Dorong mereka untuk selalu mempertanyakan kebenaran informasi. Minta mereka untuk berpikir, “Siapa yang mengirim pesan ini? Apakah orang ini bisa dipercaya? Apa tujuan mereka?” Dengan cara ini, mereka bisa lebih hati-hati dan tidak mudah terperdaya.
2. Membangun Keterampilan Komunikasi
LST memberikan keterampilan komunikasi yang asertif. Remaja dilatih untuk menolak ajakan dari teman sebaya atau orang lain secara tegas namun sopan, tanpa merasa takut dikucilkan atau kehilangan validasi. Caranya:
a. Ajarkan remaja bahwa asertif itu bukan berarti harus marah-marah atau menyerang orang lain. Asertif adalah tentang menghormati diri sendiri dan orang lain. Mereka perlu belajar bagaimana menyampaikan “tidak” dengan tenang, tanpa berteriak atau menuduh.
b. Latih remaja untuk menolak ajakan dengan kalimat yang jelas dan jujur. Daripada hanya bilang “tidak mau,” mereka bisa bilang, “Terima kasih sudah mengajak, tapi aku tidak bisa ikut karena ada urusan lain,” atau “Aku menghargai ajakanmu, tapi ini bukan hal yang aku suka.” Ini membantu mereka menolak ajakan tanpa merusak hubungan pertemanan.
3. Membangun Hubungan Interpersonal yang Sehat
Program ini mendorong remaja untuk membangun hubungan yang sehat dengan teman-teman yang memiliki nilai-nilai positif. Ini membantu mereka menciptakan lingkungan sosial yang suportif, sehingga mengurangi keinginan untuk bergabung dengan “lingkaran pertemanan berisiko” yang sering kali menjadi pintu masuk ke penyalahgunaan narkoba.
a. Dorong remaja untuk mengenali ciri-ciri pertemanan yang sehat, seperti saling mendukung, menghargai, jujur, dan tidak saling menjatuhkan. Teman yang baik akan menghormati keputusan kita, bahkan saat kita menolak ajakan mereka.
b. Bantu remaja memahami bahwa mereka berhak memilih dengan siapa mereka bergaul. Daripada terjebak dalam “lingkaran pertemanan berisiko” yang sering memaksa untuk melakukan hal negatif, dorong mereka untuk mencari teman yang memiliki minat dan nilai-nilai yang sama.
c. Ajak remaja untuk terlibat dalam kegiatan di luar sekolah yang sesuai minat mereka, seperti klub olahraga, seni, atau organisasi sukarelawan. Ini adalah cara terbaik untuk bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki tujuan dan nilai positif.
4. Menguatkan Konsep Diri yang Positif
LST membantu remaja untuk memahami dan menghargai diri sendiri. Dengan konsep diri yang positif, remaja tidak lagi mencari validasi atau pengakuan dari orang lain, terutama dari kelompok yang salah di media sosial. Caranya:
a. Ajak remaja untuk mengenali dan menghargai keunikan serta kelebihan diri mereka. Bantu mereka menyadari bahwa harga diri tidak ditentukan oleh seberapa populer mereka di media sosial atau seberapa banyak teman yang mereka miliki.
b. Dengan konsep diri yang kuat, remaja tidak akan mudah terpengaruh oleh tren atau tekanan untuk mengikuti ajakan berbahaya agar bisa diterima dalam suatu kelompok. Mereka akan lebih percaya diri dengan pilihan mereka sendiri dan tidak perlu mencari pengakuan dari orang lain.
Dengan berfokus pada tiga pilar utama ini, LST tidak hanya memberikan informasi pasif tentang bahaya narkoba, tetapi juga memberdayakan remaja dengan alat-alat praktis yang dapat mereka gunakan secara aktif untuk melindungi diri mereka dari ancaman di dunia digital.
Pada akhirnya, sindikat narkoba tidak sekadar menjual zat terlarang—mereka menjual mimpi palsu, harapan semu, dan pelarian yang berujung pada jurang. Mengetahui modus dan rayuan mereka bukan hanya soal kewaspadaan, tetapi juga tentang menjaga masa depan yang belum sempat tumbuh menjadi utuh.
Referensi
Antara News. (2024, 12 Februari). BNN RI Beberkan Modus Kejahatan Narkotika WNA di Bali. Antara News. https://m.antaranews.com/berita/4968829/bnn-ri-beberkan-modus-kejahatan-narkotika-wna-di-bali
Griffin, K. W., Williams, C., Botvin, C. M., Sousa, S., & Botvin, G. J. (2022). Effectiveness Of A Hybrid Digital Substance Abuse Prevention Approach Combining E-Learning And In-Person Class Sessions. Frontiers in Digital Health.
Hsiung, H. (2022). Preventing substance abuse in adolescents: A Review Of Evidence-Based Family Programs. International Journal of Environmental Research and Public Health.
Hu, C., Yin, M., Liu, B., Li, X., & Ye, Y. (2021). Identifying Illicit Drug Dealers On Instagram With Large-Scale Multimodal Data Fusion. Journal of the ACM, 37(4), Article 111.
MetroTV News. (2024, 26 Juni). BNN Bongkar Fakta Mengejutkan, 312 Ribu Remaja Di Indonesia Terpapar Narkoba. MetroTV News. https://www.metrotvnews.com/read/kpLCa803-bnn-bongkar-fakta-mengejutkan-312-ribu-remaja-di-indonesia-terpapar-narkoba
RMOLJabar. (2024, 4 Juni). BNN Cimahi Ungkap Modus Peredaran Narkotika Via Media Sosial. RMOLJabar. https://www.rmoljabar.id/bnn-cimahi-ungkap-modus-peredaran-narkotika-via-media-sosial
Umar, M., Samad, A., & Fitrah, A. (2022). Social media and drug abuse: A narrative review. Journal of Public Health Research, 11(3), 223–231.



