Remaja rentan terjebak dalam penyalahgunaan narkoba karena pengaruh lingkungan, tekanan teman sebaya, dan masalah psikologis. Pendekatan kognitif-perilaku (Cognitive-Behavioral Approach) menawarkan cara efektif untuk membantu mereka mengubah pola pikir dan kebiasaan berisiko menjadi perilaku sehat. Artikel ini membahas bagaimana teknik ini bekerja, langkah penerapannya, dan manfaatnya dalam memutus rantai ketergantungan.
Mengapa Remaja Rentan terhadap Narkoba?
Menurut Erik. H Erikson, Masa Remaja merupakan masa dimana seseorang mengalami pencarian jati diri, penuh rasa ingin tahu dan keinginan mencoba hal-hal baru. Jika pada masa ini seorang anak kurang mendapatkan pengawasan dan bimbingan yang positif dari orang tua dan lingkungannya maka akan berdampak sangat besar terhadap pencarian jati diri tadi (Khairunnisa Nazwa Kamilla dkk., 2022). seringkali, rasa ingin tahu ini menjadi pintu masuk bagi pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kelompok usia remaja dan dewasa muda menjadi salah satu segmen yang rentan terpapar.
Mengenal Pendekatan Kognitif-Perilaku
Cognitive-Behavioral Approach (CBA) adalah metode pendekatan psikologis yang berfokus pada hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Konsep utama teori ini adalah dimana: jika kita mengubah cara seseorang berfikir maka terdapat kemungkinan perilaku seorang juga dapat berubah menjadi lebih baik seiring dengan perubahan pola berfikir tadi. Click or tap here to enter text.
Pada kasus ketergantungan narkoba, Cognitive-Behavioral Approach (CBA) membantu remaja:
- Mengetahui dan memahami pola pikir negatif atau kesalahan berfikir yang memicu terjadinya perilaku penyalahgunaan narkoba.
- Mengembangkan strategi mengatasi dan mencegah munculnya stress maupun pemicu dari perilaku penyalahgunaan narkoba.
- Menciptakan dan membiasakan diri atas pola hidup sehat yang membantu pemulihan jangka panjang.
Bagaimana CBA Membantu Mengatasi Ketergantungan Narkoba?
- Identifikasi Pemicu (Trigger Recognation)
Remaja diajak mengenali situasi, tempat, atau perasaan yang biasanya menjadi penyebab munculnya keinginan menggunakan narkoba. Misalnya, tekanan dari teman sebaya atau rasa kesepian.
- Mengubah Pola Pikir Negatif
Konselor akan membantu remaja mengubah pola fikir negatif, seperti yang awalnya ”Saya tidak bisa berhenti” menjadi ”saya punya kendali atas diri saya untuk bisa menghentikan ketergantungan ini”, ataupun pola fikir-pola fikir lainnya yang lebih postif.
- Pelatihan Keterampilan Koping (Coping Skills Training)
Konselor akan membantu klien mempelajari teknik relaksasi, manajemen stres, hingga keterampilan komunikasi untuk menolak ajakan menggunakan narkoba.
- Penguatan Perilaku Positif
Konselor dapat membantu memberikan penguatan terhadap perubahan-perubahan perilaku postitif yang di tampilkan oleh klien setelah mulai menerapkan Cognitive-Behavioral Approach (CBA), seperti: pada saat klien mampu untuk memberhentikan penggunaan obat-obatan terlarang dan mampu mulai melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat maka konselor akan mengarahkan keluarga klien untuk memberikan afirmas-afirmasi positif kepada klien.
Kelebihan Pendekatan Ini
- Berbasis Bukti Ilmiah – Cognitive-Behavioral Approach (CBA) menggunakan ilmu pengetahuan ilmiah sebagai dasar dari pendekatan ini.
- Praktis dan Terukur – Hasil dan perubahan perilaku yang ditampilkan oleh individu yang telah melalui Cognitive-Behavioral Approach (CBA) ini dapat diamati dalam jangka waktu tertentu serta diukur perbedaannya sebelum maupun sesudah diterapkannnya pendekatan ini.
- Memberdayakan Remaja – Dengan menggunakan pendekatan ini pada remaja tidak hanya diminta untuk berhenti menggunakan obat-obatan terlarang itu saja, tetapi juga diajarkan cara mempertahankan perilaku-perilaku positif yang muncul setelah diterapkannya pendekatan ini.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Penerapan CBA akan lebih efektif jika dibersamai dengan dukungan keluarga, guru, teman sebaya serta orang-orang disekitarnya. Memberikan edukasi dan pelatihan kepada orang tua tentang bagaimana cara berkomunikasi yang positif dan empati menjadi kunci agar remaja merasa aman dan diterima setelah berhenti menggunakan kecanduan obat-obatan terlarang tadi. (Horigian dkk., 2016)
Kesimpulan
Perubahan perilaku bukanlah proses instan, apalagi jika menyangkut ketergantungan narkoba. Namun, Cognitive-Behavioral Approach memberi remaja “peta jalan” yang jelas: mengenali pemicu, mengubah pikiran, dan membangun perilaku baru yang lebih sehat. Dengan dukungan yang tepat, bukan hanya narkoba yang bisa ditinggalkan—masa depan cerah pun bisa diraih.
REFERENSI
297-324_SLT_CognitiveBehavioralApproaches-Firmansyahalall.2022 id. (t.t.).
Horigian, V. E., Anderson, A. R., & Szapocznik, J. (2016). Family-Based Treatments for Adolescent Substance Use. Dalam Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America (Vol. 25, Nomor 4, hlm. 603–628). W.B. Saunders. https://doi.org/10.1016/j.chc.2016.06.001
Khairunnisa Nazwa Kamilla, Alifia Nur Elga Saputri, Dayang Astri Fitriani, Sofie Aulia Az Zahrah, Putri Febiane Andryana, Istighna Ayuningtyas, & Indah Salsabila Firdausia. (2022). Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson. Early Childhood Journal, 3(2), 77–87. https://doi.org/10.30872/ecj.v3i2.4835




